Dulu..

“Seharusnya, dulu saya tak lupa membawa kompas, saat berani memutuskan mencintaimu, agar saya bisa kembali pulang saat jauh tertinggal di belakangmu~
Seharusnya, saat pertemuan kita dulu, saya tidak mengikutsertakan rasa. Seharusnya, saat itu hati saya tidak ikut bicara. Semestinya saya, kamu, kita berdua, saling menggenggam tangan hanya untuk mencari hangat semata. Hanya untuk sekedar mengusir hawa dingin lewat sentuhan hangat diantara gigilnya udara malam itu.Saya pikir, dengan sentuhan tangan seperti itu, tak kan mampu menjelmakan rasa. Tak kan mampu menggugah geliat hati saya. Dan saya menganggap saya mampu bertahan tak tergoda selamanya. Belakangan, saya sadar kalau ternyata saya salah. Saya hanyalah manusia. Perempuan keturunan Hawa. Saya sungguh tak mampu mengelabui hati dan rasa.
Hingga kemudian, untuk kali pertama, saya merasakan sesuatu yang… lain. Saya mulai merasakan ada yang beda. Sesuatu yang tidak semestinya ada. Sesuatu yang kemudian saya rasakan semakin bergejolak di dalam sini, dalam hati saya. Ya, hati! Sesuatu yang mengganggu benak saya karena seharusnya rasa saya itu tidak ikut bicara.

Pada awalnya saya pikir, saya kuat untuk tidak tergoda. Karena selama ini saya yakin telah menyelimuti seluruh hati saya rapat2 dari rasa yang pernah sekali dua sempat ditawarkan beberapa lelaki kepada saya. Namun nyatanya, kali ini saya benar2 tak mampu memagari hati. Padamu, kemudian saya takluk. Hati saya bertekuk lutut untuk kedua kalinya setelah dulu hatiku sempat resmi tercuri saat kita masih berseragam abu2. Kini, saya merasakan kembali rasa cinta yang dulu. Sederhana kan? Ya, hanya sesederhana itu, begitulah yang bisa saya simpulkan.

Tepat disaat itulah saya menyadari bahwa saya telah kembali jatuh cinta padamu. Bahwa ternyata saya begitu ingin menjadi seseorang yang paling kau sayangi. Begitu ingin menjadi kepingan yang hilang untuk sempurnakan hidupmu. Ingin kau lengkapi. Menjadi perempuan yang paling kau cintai. Utuh. Bukan hanya separuh.

Demikian pula, sejak saat itu, saya mendadak sunyi. Saya mulai menyimpan rahasia rasa dari lelaki disamping saya. Saya menciptakan ruang kecil dalam hati saya yang tak seorangpun boleh mengetahuinya. Ruang dimana lelaki disamping saya itu tak kuasa menjangkaunya.

Sampai2 suatu malam, untuk pertama kalinya tiba2 saya merasakan rasa… eemm, cemburu, sakit hati dan ada perasaan diduakan. Suatu rasa yang tepatnya tak bisa saya jelaskan.

Tiba2 saja saya jadi cemburu pada perempuan2 yang ada di sekelilingmu. Pada perempuan2 yang pernah dekat denganmu. Bahkan pada perempuan yang kini ada disebelahmu.

Pernah pada suatu kesempatan saya katakan bahwa saya cemburu saat kau sedang bercerita tentang keindahan perempuan di sampingmu.

“Tak perlu cemburu begitu…” katamu menenangkan saya saat itu.

Entah mengapa, rasanya saya bisa menangkap percikan pembelaan yang hadir dari kata2mu untuk perempuan di sampingmu itu. Percikan pembelaan yang sama sekali belum pernah kau tujukan untuk saya.
Seketika sesuatu dalam diri saya meronta. “TAPI YA, SAYA CEMBURU!!” Ingin sekali saya teriak bilang begitu. Namun kata2 itu urung saya jeritkan. Saya telan satu persatu susunan huruf tersebut hingga tak sempat terlontar keluar. Namun, bukannya tertelan, huruf2 tersebut justru tersangkut di tenggorokan meski berkali2 saya mencoba menelannya. Rasanya sulit sekali. Hingga kemudian saya merasakan panas yang menyengat di kedua kelopak mata ketika mencoba menahankan rasa sakit yang meluap dari dalam dada.

Saya diam. Ada rasa sakit merambati hati saya pelan2. Mungkin saat itu kau sama sekali tidak menyadari kalau saya benar2 terbakar cemburu saat itu.

Kau tau, sayang? Betapa saya benci pada keadaan itu. Tak hanya cemburu, saya juga merasa terluka. Sekaligus bodoh. Kok bisa2nya saya cemburu pada perempuan satu2nya yang tlah kau labuhkan cintamu untuknya.

Dan untuk selanjutnya, saya tak pernah mengungkit tentang rasa cemburu ini. Sama sekali tak pernah menyinggung tentang rasa ini lagi. Saya memutuskan untuk tidak membicarakan tentang hal ini lebih jauh. Sebab, toh, saya juga yang akan merasakan rasa sakitnya jika saya dengan sengaja menyinggungnya. Dan saya sangat sadar, bahwa rasa sakit yang ditimbulkan itu begitu merumitkan hati saya. Hingga selanjutnya, saya lebih memilih berpura2 tak pernah merasakan pedih saat terbakar cemburu.

Seandainya boleh memilih, saya tidak pernah ingin merasakan hal ini. Berbenturan rasa yang semestinya tak pernah boleh terjadi. Tapi untuk mulai menghapus rasa tersebut dari hati yang sudah terlanjur menetap di sana, saya juga tak sanggup. Untuk tetap melanjutkannya, apalagi. Lucu rasanya. Bagaimana bisa saya merasa mencintai sementara kau tak lagi menginginkan saya

Tadinya saya pikir kau pun masih punya rasa yang sama dengan saya, tetap mencinta. Tapi lagi2 saya salah. Kau pun perlahan menjauh. Begitu jauh. Dan sama sekali tak dapat lagi terjangkau oleh rasa hati saya.

Kini, saya hanya bisa memandangimu dari kejauhan. Mengagumi diam2 dari belakang punggungmu tanpa kau tau.

Biarlah sementara begini. Tepatnya, saya akan membiarkannya tetap begini, meski semua ini terasa terlalu menyedihkan untuk saya lalui. Mungkin saat ini saya perlu waktu. Karena mungkin selama ini saya sudah terlalu terbiasa merasakan keberadaanmu di hati saya. Meski tiap kali mengingatmu, saya merasakan perih di mata. Saya akan merasakan seolah ada sesuatu yang tak nampak menusuk hati saya dan membuat lubang di sana. Lubang yang tak tertutup seiring waktu yang berlalu. Karena sesungguhnya, rasa saya tak mampu sendirian tanpa kehadiran hatimu~

Ingatlah aku, R

Sekali lagi, malam ini aku dan sepi merindukanmu. Ada sesuatu yang tiba tiba menyeruak dalam dadaku sayang..menghadirkan hangat yang sangat.

Aku merasakan kembali ciuman hangat yang kau berikan tanpa henti di setiap malam kita, merasakan dekapan tangan besarmu dan mendengarkan merdunya detakan jantungmu..aku merasakannya lagi..

Sayang,  aku tau..takdir telah dengan kejam menghancurkan impianku. Tapi, tak bisakah untukmu menentangnya?? Mengapa begitu mudah menyerah??

Kau adalah hidupku, cinta. Setelah kau pergi, hariku mati. Waktu hanyalah titian panjang yang tak berarti lagi bagiku. Ya..diseberang kota sana kau mungkin masih melihatku tanpa luka. Anggap sajalah aku bisa menerimanya..tapi sakit yang kurasa, kau mungkin tak pernah dapat melihatnya. Kenangan itu membunuhku pelan pelan sayang..sakitnya sungguh tak tertahankan.

R..A..

Kau ingat, saat kita dibus mau pergi mendaki gunung singgalang?? Aahhh, hari itu aku benar benar ingin waktu berhenti saja. Genggaman tanganmu disepanjang jalan itu menghadirkan rasa nyaman yang luar biasa. Dekapanmu sungguh tak terlupakan..kecupan lembut dipipiku sangat menyejukkan..kapan kau bisa membuatku merasakannya lagi, sayang??

Aku tau ini gila.. Setelah waktu yang sangat lama..aku masih tak bisa berhenti memujamu..aku selalu merasakan cemburu dengan perempuan yang saban hari bisa merebahkan diri disampingmu. Aku.. Benci dengan kenyataan kau ternyata bukan untukku. Tapi segalanya masih bisa terjadi bukan?? 

Aku tak peduli segila ala harapanku ini.. Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin memiliki setidaknya satu hari untuk bisa bersamamu sebelum kelak aku mati.. Peluklah aku disaat itu yaaa cinta?? Kau maukan??

Serindu rindunya

Beginilah aku..

Yang sekarat ditikam rindu

Sedang tuan, tetap membiarkanku berjibaku

Ada yang masih bertahan dalam diam

Dalam diamnya, seorang perempuan berurai airmata bersujud menyentuh kening tanah…berharap ketenangan diberikan Tuhan senantiasa diharimu meskipun linangan luka menggenangi tiap detik harinya,

Dalam diAmnya, seorang perempuAn masih melafalkan ayat ayat kerinduannya, berharap kebahagiaan mengelilingimu dimanpun kau berada..tak peduli dengan pedih yang menggerogoti jantungnya sendiri..

Dalam diamnya, seorang perempuan bermunajat di tubuh malam berharap kedamaian menyelimuti hidupmu, kadang dalam keresahan yang tak menentu menyetubuhi tiap sel otak dalam kepala..

Dalam diamnya..

Seorang perempuan masih mencintaimu

Meski kau..tak pernah tau..(atau tak mau tau?)

Tolong sampaikan padanya…

Malam ini saya menulis dengan perasaan yang entah harus saya sebut apa. Sebenarnya saya ingin langsung bertamu ke hati lelaki itu. Ingin bisa duduk di sampingnya dan memulai percakapan kecil tentang apa saja. Terutama tentang kabarnya yang belakangan ini memilih tuli. Akan tetapi saya cemas jika saya bertamu ke hati lelaki itu, hal ini akan menahannya beberapa saat sementara saya paham sekali lelaki itu terlalu sibuk meski hanya untuk mendengar cerita saya apalagi untuk membaca sepucuk surat.
Frekuensi ‘pertemuan’ kami yang makin jarang, hingga kemudian lelaki itu sama sekali tak lagi punya waktu untuk saya, jujur membuat saya sungguh kehilangan. Entah karena apa lelaki itu lantas memilih sunyi dan merawat setoples diam di bibirnya hingga kini. Ah, barangkali lelaki itu ingin benar benar melupakan rasa sakit hati yang dulu pernah mampir dan melubangi dadanya. Sekaligus ingin menghapus keberadaan saya, si penyebab itu semua.

Pernah di suatu malam, saya mengajukan tanya; “apakah kau sudah mulai melupakanku sekarang?”. Saya ingat betul potongan kalimatnya saat itu; ia sama sekali tak melupakan saya, katanya. Saat itu saya hanya pura pura percaya dengan perkataannya. Tapi coba tebak, apa kalian percaya jika saya kekal di dalam ingatannya?. Jika ini diumpamakan sebuah buku, saya seperti menandai halaman yang hendak saya ulang ulang membacanya dengan melipat ujung kertasnya, sementara pada kenyataannya, lelaki itu sama sekali tak ingin lagi mendengar saya membaca alinea sama yang saya tandai itu.

Dusta jika saya katakan bila saya tlah bisa melupakannya. Setiap pagi ketika saya menyeduh secangkir kopi, kerap kali saya bertanya tanya dalam hati apakah lelaki itu telah sempat menyesap kopi di pagi yang sama ketika saya mengingatnya?. Pukul tujuh malam, ketika saya menatap langit yang mulai gelap, saat itu juga saya bertanya tanya apakah lelaki itu telah tiba di rumah untuk melepas lelah?. Demikian juga ketika malam makin larut, dalam baring saya menerka nerka, apakah lelaki itu punya rasa yang sama seperti saya; merindu?

Sungguh lucu. Kini, tinggal saya sendiri yang tetap mencoba mengeja tanggal tanggal pertemuan dan percakapan percakapan manis sejak bincang pelan pelan pudar. Yah, pada akhirnya saya hanyalah kata. Sajak sajak yang ditinggalkan pembaca. Kini tinggal saya yang mempuisikan kehilangan dengan sempurna. Biarlah. Tak apa. Meski di sini namanya tak pernah sekali pun luput ucap. Meski pun hingga kini, nama lelaki itu dan doa doa sangat akrab dengan bibir saya.

Maka untuk sesiapa yang membaca surat ini, bolehkah saya minta bantuan kalian?

Tolong sampaikan pada lelaki itu, bila kabar saya saat ini baik baik saja.

Tolong bilang pada lelaki itu, jagalah kesehatannya meski kini musim tak lagi seramah dulu. Katakan, jangan sampai ia jatuh sakit.

Bilang pada lelaki itu, jangan pernah lupa untuk bahagia. Tak peduli dengan siapa ia membaginya, selama ia ada di dalamnya.

Sampaikan pada lelaki itu, di sini ada yang lebih hujan dari gerimis akhir agustus; mata yang sembab dan rindu yang hilang alamat.

Tolong ucapkan salam rindu yang tak lekang untuk lelaki itu.

Katakan padanya, maaf, atas cinta yang tak kunjung bisa saya hilangkan dari dalam dada. Maaf juga atas ribuan puisi yang saya lantunkan baginya, yang mungkin sangat mengganggu menurutnya. Katakan padanya untuk mengizinkan saya memelihara selaksa rindu sejak ia tak lagi mau bertamu.

Sampaikan padanya, di sini saya dapat mendengar doa doa yang ia lantunkan di tengah derap hujan yang jatuh semalam, yang ia bisikan sepelan gerimis yang turun. Katakan padanya, semalam saya ada, menemaninya menggenapi malam malamnya.

Akhir kata, sampaikan juga pada lelaki itu, di sini di atas kepala saya, seekor laba laba membuat sarangnya selama saya menunggunya sampai ia tak lagi menjahitkan diam di bibirnya yang dahulu akrab dengan sapaan.

Terimakasih saya, teruntuk semua bantuan kalian..

Happy HUT RI…wkwkwkkk…

View on Path

Pendiam..haha

View on Path